SURAKARTA, SUAR MAHASISWA AWARDS — Bahasa adalah jendela kebudayaan. Saat seseorang memutuskan untuk mempelajari bahasa suatu negara, tentu saja bukan sekadar memahami kosakata dan tata bahasa, tetapi mempelajari kebudayaan yang kompleks dari negara yang dituju tersebut. Salah satunya bahasa Indonesia. Kini, bahasa Indonesia menjadi pesona untuk orang asing. Hal itu membuat penggunaan bahasa Indonesia semakin marak dituturkan oleh mereka. Bagi penutur asing yang ingin memahami lebih dalam tentang keanekaragaman budaya Indonesia, mempelajari Bahasa Indonesia adalah langkah pertama yang penting.
Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing atau BIPA merupakan program pengajaran bahasa Indonesia yang ditujukan bagi warga negara asing yang ingin mempelajari Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua atau asing. Program ini mencakup aspek linguistik dan kultural untuk mendukung proses adaptasi pembelajar dalam konteks kehidupan di Indonesia. Kehadiran program BIPA sebagai pembelajaran bahasa Indonesia yang dikhususkan untuk warga asing. Program BIPA mulai dirintis pada awal 1990-an, seiring meningkatnya minat penutur asing terhadap bahasa Indonesia. Pada tahun 1993, istilah “BIPA” secara resmi disepakati dalam Konferensi Internasional Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing di Salatiga, dan diperkuat dalam Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta pada tahun yang sama.
Dilansir dari laman Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi atau Kemdiktisaintek (2023), Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi Sidang Umum United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 20 November 2023. Hal ini menjadi salah satu upaya dalam mengimplementasikan amanat Pasal 44 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaaan, juga agar bahasa Indonesia mendapat status bahasa resmi pada sebuah lembaga internasional setelah secara nyata Pemerintah Indonesia membangun kantong-kantong penutur asing bahasa Indonesia di 52 negara.
Program BIPA tersebar luas di berbagai negara. Dilansir dari laman BIPA Kemdikbud (2024), jumlah lembaga penyelenggara program BIPA terhitung 711 lembaga yang tersebar di 59 negara, yaitu 398 lembaga teridentifikasi, 301 lembaga terfasilitasi, dan 12 lembaga tervalidasi. Khususnya di Indonesia, tercatat sebanyak 267 lembaga. Salah satu lembaga yang secara aktif menyelenggarakan program BIPA bagi warga negara asing, termasuk dari Jepang, adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bahasa Universitas Sebelas Maret (UNS). Lembaga ini tidak hanya memberikan pengajaran bahasa, tetapi juga memfasilitasi pemahaman budaya Indonesia secara kontekstual. Mahasiswa Jepang yang mengikuti kuliah reguler di UNS pun kerap menjadi peserta program BIPA sebagai bagian dari upaya mereka untuk beradaptasi secara linguistik dan sosial di lingkungan akademik Indonesia.
Bagi ekspatriat Jepang yang kuliah secara reguler di Universitas Sebelas Maret, kemampuan berbahasa Indonesia menjadi kebutuhan dasar untuk beradaptasi, baik di lingkungan akademik maupun sosial. Tidak hanya dituntut memahami materi kuliah yang disampaikan dalam bahasa Indonesia, tetapi juga harus mampu berinteraksi dengan dosen, teman sekelas, dan masyarakat sekitar. Di sinilah peran program BIPA menjadi sangat penting sebagai jembatan awal dalam proses integrasi tersebut.
Fenomena ini menarik untuk dibahas karena memberikan perspektif mikro terhadap bagaimana bahasa Indonesia diterima dan dipelajari oleh warga asing dari latar belakang budaya yang berbeda. Selain itu, studi mengenai pengalaman ekspatriat Jepang dalam belajar BIPA dapat menjadi kontribusi penting dalam pengembangan pendekatan pengajaran bahasa yang lebih responsif terhadap kebutuhan dan konteks peserta didik asing.
Seika Yamaguchi, mahasiswa aktif angkatan 2022 yang berasal dari Jepang, kini berkuliah secara reguler di jurusan Sosiologi, Universitas Sebelas Maret (UNS). Sebelum berkuliah di UNS, dia menjalani program BIPA yang diadakan oleh UPT Bahasa UNS.
Ada 3 persepsi dari Seika yang sudah diklasifikasikan mengenai program BIPA, yakni: motivasi belajar BIPA dan kuliah di Indonesia; daya guna BIPA untuk perkuliahan reguler dan kehidupan sehari-hari; dan dinamika pandangan narasumber terhadap program BIPA.
Motivasi Belajar BIPA dan Kuliah di Indonesia
Seika memiliki motivasi belajar BIPA dan kuliah di Indonesia karena ada kesempatan. Kesempatan itu datang dari sekolah menengah atasnya yang memiliki relasi dengan UNS.
“Saat di Jepang, ada yang bilang kalau belajar bahasa Indonesia itu nggak terlalu susah, sekitar setengah tahun atau satu tahun sudah bisa berbicara bahasa Indonesia. Jadi, ya, aku mau coba itu,” tuturnya saat diwawancarai di Pizza Up UNS, Minggu (18/05/2025).
Mahasiswa itu juga termotivasi belajar bahasa Indonesia karena adanya anggapan bahwa bahasa Indonesia relatif mudah dipelajari. Hal ini mendorongnya untuk mencoba belajar bahasa Indonesia secara langsung di Indonesia. Untuk mempelajari bahasa Indonesia, akhirnya ia memilih jurusan Sosiologi karena rekomendasi dari gurunya supaya bisa memperdalam tak hanya bahasa Indonesia saja, tetapi budaya Indonesia secara keseluruhan.
Daya Guna BIPA untuk Perkuliahan Reguler dan Kehidupan Sehari-hari
Meskipun program BIPA membantu dalam memahami dasar bahasa, narasumber merasakan adanya ketimpangan antara materi BIPA dan kebutuhan akademik di perkuliahan reguler. Ketika mulai kuliah reguler, materi terasa sulit dan belum sepenuhnya dapat diikuti.
“Saat BIPA offline, aku sudah masuk kuliah. Aku ada kesulitan dalam kuliah. Saat pertama kali datang ke sini, aku belum paham sama sekali materi kuliah. Kelas BIPA itu terlalu mudah, tetapi kelas kuliah masih susah.” Seika memiliki pandangan bahwa pembelajaran BIPA belum cukup untuk bisa beradaptasi saat kuliah. Dia melanjutkan, “Komunikasi sehari-hari itu cukup, tapi untuk kuliah masih kurang.”
Meskipun BIPA memberikan dasar yang baik, narasumber menyatakan bahwa bantuan teman-teman kuliah justru lebih efektif dalam proses adaptasi dan pemahaman materi akademik. “Aku memang belajar bahasa dari BIPA, tapi bantuan dari teman-teman di perkuliahan lebih benefit,” kata Seika.
Dinamika Pandangan Narasumber terhadap Program BIPA
Sistem Pembelajaran BIPA secara Daring dan Luring
Program BIPA yang diikuti narasumber berlangsung selama 1 tahun: 6 bulan secara daring dan 6 bulan secara luring. Masa daring dilakukan selama pandemi COVID-19, sedangkan masa luring berlangsung bersamaan dengan dimulainya perkuliahan reguler.
Selama pembelajaran daring, narasumber menghadapi beberapa kendala seperti rendahnya kehadiran peserta, perubahan jadwal mendadak, dan keterbatasan waktu akibat pekerjaan paruh waktu.
“Ketika pembelajaran BIPA secara online itu sedikit yang hadir, padahal secara data ada banyak. Aku juga tidak bisa ikut setiap kali kelas karena saat itu kerja part time. Jadwal kelasnya tiba-tiba mulai sehingga aku tidak bisa ikut jadwal itu.”
Selama pembelajaran daring, materi yang diberikan mencakup dasar-dasar Bahasa Indonesia, tetapi tidak terlalu diingat karena sudah cukup lama berlangsung. “Bahasa Indonesia yang dasar-dasar saja. Ada 6 materi waktu itu. Aku lupa karena sudah lama,” ungkapnya.
Sebaliknya, pada masa luring, pembelajaran lebih terstruktur dan interaktif, dengan dua kali pertemuan setiap minggu. Narasumber merasa proses belajar lebih efektif secara langsung karena dapat berinteraksi dengan guru dan sesama peserta.
“Kalau BIPA offline lebih benefit karena bisa menyimak langsung. Guru BIPA ada interaksi seperti suruh baca kalimat. Guru BIPA juga bertanya dan murid menjawab,” pandangannya mengenai pembelajaran BIPA secara offline.
Kurikulum dan Materi Pembelajaran
Narasumber menjelaskan bahwa pembelajaran BIPA menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar dan materi berfokus pada hal-hal dasar. Ia menilai pembelajaran cenderung terlalu lambat dan kurang menantang, serta mengharapkan adanya latihan percakapan dan penekanan pada tata bahasa.
“Di kelas BIPA itu mengenalkan bahasa Indonesia dengan menggunakan bahasa Inggris,” ungkapnya. Seika merasa materi BIPA terlalu mudah dan hanya berfokus pada dasar-dasar bahasa Indonesia yang sudah dia ketahui. Dia menyebut, “Kelas BIPA itu terlalu mudah karena yang dasar-dasar saja.”
Meskipun dirinya masih kesulitan memahami materi perkuliahan, dia justru menganggap pembelajaran BIPA tidak cukup membantu untuk mengejar kebutuhan akademik. Dia berharap ada materi tambahan tentang tata bahasa dan percakapan, serta latihan praktik yang lebih tinggi tingkatannya. “Kalau yang kurang dari materi BIPA, aku mau belajar tentang tata bahasa dan percakapan di kelas,” ucapnya.
Metode Pengajaran
“Kalau di kelas ada latihan ngobrol, itu benefit,” ungkap mahasiswa Sosiologi angkatan 2022 tersebut. Seika mengakui adanya latihan berbicara dan tanya jawab di kelas yang dianggapnya sebagai benefit, tetapi metode yang digunakan kurang variatif dan tidak menyesuaikan dengan level mahasiswa yang lebih tinggi.
Dia juga menilai bahwa kelas BIPA kurang menantang dan tempo pengajarannya terlalu lambat. Pernyataan ini memperkuat pentingnya pendekatan pembelajaran yang diferensiatif dan berjenjang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik. “Bagiku, kurang keras dan terlalu slow,” katanya.
Ungkapan ini merujuk pada tempo dan intensitas pengajaran yang menurut Seika, tidak sebanding dengan kebutuhan pelajar yang telah memiliki dasar kemampuan bahasa. Ia berharap materi bisa disampaikan dengan lebih cepat dan padat, terutama bagi mahasiswa asing yang mengikuti kelas sambil menempuh perkuliahan reguler.
Meski begitu, Seika mengapresiasi kelengkapan materi yang diberikan. Dia menilai perlu ada pengayaan dalam bentuk latihan tata bahasa dan penambahan pekerjaan rumah. Seika menambahkan, “Materinya sudah cukup. Kalau bisa, ada tambahan dengan materi tata bahasa dan memberi pekerjaan rumah.”
Selain aspek linguistik, narasumber juga mendapatkan pengenalan budaya Indonesia melalui kelas BIPA, seperti lewat lagu dan makanan tradisional. Ia juga pernah berkunjung ke rumah guru BIPA saat Hari Raya Idulfitri.
“Waktu itu, Guru BIPA membagikan materi dengan lagu Indonesia. Aku dikenalkan makanan ringan yang manis, tapi aku lupa namanya. Kalau wisata belum pernah, tapi pernah pergi ke rumah Guru BIPA saat Idulfitri,” tuturnya.
Berdasarkan pengalaman narasumber, program BIPA yang diadakan oleh UPT Bahasa UNS telah memberikan dasar-dasar penting dalam penguasaan bahasa Indonesia, terutama untuk komunikasi sehari-hari dan pengenalan budaya lokal. Namun, materi yang disampaikan dinilai masih terlalu dasar dan kurang sesuai dengan kebutuhan akademik mahasiswa asing yang mengikuti perkuliahan reguler. Pembelajaran secara luring lebih efektif karena memungkinkan interaksi langsung dengan pengajar. Selain itu, dukungan sosial dari teman-teman di lingkungan kampus ternyata memainkan peran besar dalam membantu proses adaptasi narasumber. Adaptasi ini menjadi krusial bagi mahasiswa asing, khususnya Seika, yang mengikuti kuliah reguler, terutama dalam memahami materi perkuliahan dan menjalin relasi dengan sivitas akademika.
Penulis:
Muthiara ‘Arsy/Universitas Sebelas Maret