Jangan Overthinking Katanya, Tapi Kok Malah Makin Kepikiran?
Jangan Overthinking Katanya, Tapi Kok Malah Makin Kepikiran?

Jangan Overthinking Katanya, Tapi Kok Malah Makin Kepikiran?

Kesehatan
4 September 2025

BANDUNG, SUAR MAHASISWA AWARDS — Overthinking merupakan respon kognitif yang umum dialami oleh mahasiswa saat menghadapi ketidakpastian dalam berbagai aspek kehidupan, seperti akademik, karir atau hubungan sosial. Dalam situasi ini, mahasiswa bisa merasa semakin tertekan akibat berbagai pesan emosional yang diterimanya. Artikel ini akan membahas bagaimana pesan emosional bisa memicu tekanan kognitif pada mahasiswa, berlandaskan teori Psychological Reactance atau Reaktansi Psikologis dari Jack Brehm (1966). Tujuannya adalah untuk memahami reaksi tersebut dan mendorong terciptanya cara berkomunikasi yang lebih empatik, sekaligus membantu mengurangi overthinking demi kesehatan mental yang lebih baik.

Pendahuluan

Overthinking merupakan hal umum yang sering terjadi pada manusia, khususnya di kalangan mahasiswa. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala yang pada akhirnya membuat pikiran kita terus berputar. Misalnya seperti “Apakah aku bisa lulus tepat waktu?”, “Bagaimana kalau nilai ujianku tidak sesuai ekspektasi?”, “Apakah setelah lulus aku akan bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan jurusanku?”, dan masih banyak lagi.

Segala macam pertanyaan ini tidak selalu bisa ditenangkan dengan kalimat seperti “Jangan overthinking, belum kejadian ini kok!”, “Alah jangan overthinking, santai aja!”. Dalam beberapa kondisi, kalimat yang memiliki maksud untuk menenangkan tersebut malah membuat sebagian orang merasa tersinggung dan bahkan semakin kepikiran. Contoh lainnya seperti “Jangan menangis”, eh pada akhirnya air mata mengalir semakin deras.

Artikel ini dibuat dengan tujuan untuk mengulas fenomena reaktansi psikologis yang muncul ketika seseorang menerima pesan emosional seperti “Jangan overthinking”. Pesan ini dapat ditangkap secara berbeda tergantung persepsi individu dan kondisi emosionalnya. Bagi sebagian orang, pesan ini bisa terasa menenangkan, namun bagi yang lain justru memicu tekanan kognitif. Hal ini juga berkaitan erat dengan proses kognitif seperti persepsi, atensi, dan kesadaran emosional, yang menjadi bagian penting dalam pembahasan Psikologi Kognitif. Ketika seseorang tidak memiliki kesadaran emosional yang cukup, maka respons terhadap pesan emosional bisa menjadi reaktif dan tidak adaptif.

Artikel ini akan membahas bagaimana pesan yang terkesan menenangkan justru memberikan tekanan kognitif. Diharapkan dengan adanya pemahaman ini dapat menjadi dasar untuk pembahasan lebih lanjut menggunakan teori Psychological Reactance yang dikenalkan oleh Jack Brehm (1966). Sehingga dapat membantu mengembangkan komunikasi yang lebih efektif dan empatik sekaligus menjadi cara untuk mengurangi overthinking dalam mendukung kesehatan mental pada mahasiswa.

Tinjauan Pustaka

Psychological Reactance atau Reaktansi Psikologis merupakan teori yang dikenalkan oleh Jack Brehm (1966) yang menjelaskan saat seseorang merasa kebebasannya dibatasi, mereka akan bereaksi dengan cara menolak atau melawan. Misalnya jika kita diberi tahu “Jangan dilihat!”, terkadang kita malah ingin melakukan hal itu lebih kuat. Pesan yang terkesan memerintah atau mengatur pikiran mereka, justru semakin terasa mengganggu dan sulit mengendalikan pikiran (Lee & Graham, 2001; Dusselier et al., 2005; Misra & McKean, 2000).

Dalam psikologi kognitif, hal ini berkaitan erat dengan kontrol kognitif, yaitu kemampuan otak dalam mengatur dan mengendalikan pikiran agar tetap fokus. Ketika kebebasan berpikir terasa terganggu, kontrol kognitif bisa menurun, sehingga pikiran semakin berputar dan sulit dihentikan. Hal ini berhubungan dengan proses persepsi, atensi, dan kesadaran emosional, sebagaimana dibahas dalam Psikologi Kognitif. Persepsi terhadap pesan, perhatian yang tersedot pada pikiran negatif, dan rendahnya kesadaran emosional dapat memperkuat reaksi negatif yang timbul terhadap pesan-pesan yang sebenarnya berniat menenangkan.

Oleh karena itu, pesan sederhana dapat memicu reaksi yang berlawanan, terutama pada mahasiswa yang menghadapi tekanan akademik dan ketidakpastian masa depan.

Pembahasan

Pasti diantara kalian ada yang pernah terlintas di pikiran “Bagaimana nasibku setelah lulus nanti?”, ”Apakah bisa langsung mendapatkan pekerjaan? Bagaimana kalau sebaliknya?”. Atau bahkan saat kalian mengalami tekanan akademis “Bagaimana ya kalau nanti nilainya jelek dan berakhir harus mengulang mata kuliah lagi? Padahal aku sudah bekerja keras, tapi aku masih ragu”. Apalagi saat jam malam, pasti rawan banget! Sampai akhirnya malah begadang dengan pikiran yang berputar disitu-situ terus, betul tidak?

Namanya manusia, pasti akan berakhir membutuhkan bantuan orang lain juga pada akhirnya. Dan disinilah, memulai sesi curhat dengan orang terdekat kita! Terkadang jawaban yang didapat malah semakin membuat kita tidak tenang. Contohnya seperti “Jangan Overthinking, jalani dulu aja”, “Jangan Overthinking, kejadian juga belum”.

Tapi kok bisa ya malah jadi sebaliknya? Padahal maksudnya baik, hanya ingin menenangkan. Nyatanya, nggak semua orang bisa menerima pesan itu dengan cara yang sama. Nah, ada beberapa faktor yang memperkuat reaktansi ini. Pertama, jika kalimatnya terasa memberi perintah. Bagi sebagian orang akan merasa kebebasannya terganggu. Kedua, saat emosi seseorang sedang tidak stabil seperti stress, sedih dan cemas berlebihan cenderung lebih mudah merasakan reaktansi. Hal ini bisa disebabkan oleh kurangnya awareness terhadap kondisi emosional lawan bicara sehingga menyebabkan respon buruk yang diterima. Ketiga, yaitu ketika kontrol pikiran menurun, individu mengalami kesulitan dalam mengarahkan atensi atau perhatian. Jadi, niat awal dari kalimat-kalimat tersebut yang ingin menenangkan, malah akhirnya bikin pikiran nggak karuan.

Memahami fenomena ini penting untuk membantu kita merancang komunikasi yang lebih efektif, khususnya dalam konteks kesehatan mental mahasiswa. Dengan mengetahui bahwa pesan yang terlalu memaksa bisa memicu reaktansi, kita dapat menyusun pesan yang lebih empatik dan memberi ruang kebebasan berpikir. Bagaimana caranya? Selanjutnya akan dirangkum beberapa cara atau metode yang dapat dilakukan untuk mengurangi overthinking, serta mendukung kemampuan kognitif agar tetap optimal.

Cara mengurangi reaktansi :

  1. Terapi Relaksasi
    Terapi ini berupa afirmasi positif berupa kalimat pendek yang mengandung pemikiran positif, yang berfungsi  mempengaruhi pikiran bawah sadar untuk mendukung perkembangan persepsi yang lebih positif. Contohnya seperti “Saya kuat” yang diucapkan dengan lantang kepada diri sendiri dan berulang. Secara psikologis, afirmasi ini memiliki kekuatan besar dalam merangsang perubahan positif pada individu. Teknik ini bisa melibatkan kalimat positif, pujian, penghargaan, atau hadiah visual yang menarik (Wahiddah & Julia , 2022).
  2. Terapi Mindfulness dengan teknik STOP
    Teknik STOP yaitu singkatan dari Stop, Take a Breath, Observe, dan Proceed. Tujuan dari terapi ini adalah untuk mengelola kecemasan dan membangun keseimbangan mental yang lebih baik melalui kesadaran penuh terhadap pikiran dan perasaan saat ini.
  3. Pendekatan Behavioristik
    Pendekatan ini dilakukan melalui beberapa tahap. Pertama, mahasiswa diajak untuk menyadari pola pikir berlebihan yang mereka miliki melalui observasi diri. Selanjutnya, mereka diberikan penguatan positif ketika berhasil mengarahkan pikiran secara lebih rasional. Dengan pendekatan ini, mahasiswa diharapkan mampu mengurangi overthinking dan meningkatkan kesejahteraan mentalnya terutama di lingkungan kampus.
  4. Pendekatan kolaboratif
    Pendekatan ini menekankan komunikasi yang melibatkan pilihan, bukan kalimat perintah. Contohnya seperti “Menurut kamu, saat ini lebih baik fokus ke nambah pengalaman dulu atau mulai cari lowongan yang cocok?” bisa juga diakhiri dengan “Aku cuma mau berbagi pandangan ya, jangan sungkan untuk mengabaikannya kalau dirasa tidak cocok”.

Kesimpulan

Terkadang, niat baik untuk menenangkan justru berujung sebaliknya. Bukan karena salah ucap, tetapi karena setiap individu memiliki persepsi dan kesadaran emosional yang berbeda. Kalimat seperti “Jangan overthinking” bisa memicu reaktansi psikologis, terutama saat seseorang merasa kebebasannya dalam berpikir terganggu atau saat sedang mengalami tekanan kognitif.

Melalui pemahaman teori reaktansi dan konsep dalam psikologi kognitif seperti persepsi, atensi, dan awareness, kita bisa menyadari pentingnya berkomunikasi secara empatik. Daripada memberi perintah, kita dapat memilih pendekatan afirmatif, mindfulness, behavioristik, atau kolaboratif. Pendekatan ini tidak hanya membantu meredakan pikiran yang kalut, tetapi juga mendukung terciptanya lingkungan mental yang lebih sehat dan suportif, khususnya bagi mahasiswa yang rentan mengalami overthinking.

Penulis: 

Nurzika Alya Ramadanti

0 Suka

56
Bagikan

Artikel Terkait